Bagian II
SECANGKIR TEH MANIS
Seorang Murrobiah mengisahkan " Alhamdulillah, anak putri saya walau masih kelas 5 SD sudah bisa mandiri. Dia tidak rewel walau ditinggalkan Abi-Uminya. Dia sudah bisa memasak untuk dirinya sendiri, jadi saya lebih leluasa untuk dakwah ini. Yang membuat saya bangga pada putri saya adalah, setiap saya pulang darimana pun mengisi pengajian, putri saya selalu menyiapkan teh manis hangat untuk saya, dia sudah tahu apa yang sebenarnya umminya lakukan". Demikian salah satu kisah yang disampaikan sebagai bagian dari isi materi halaqoh ummahat saat itu, untuk memotivasi para mad'u nya agar jangan seorang anak menjadikan penghalang bagi kita semua untuk berdakwah di jalan-Nya.
Sementara itu, di sebuah sekolah, seorang guru mengamati anak putri kelas 5 murung menyendiri. Santun guru menyapa, kemudian dengan pendekatan hati ke hati sang guru pun bertanya tentang apa yang ada di pikirannya saat itu hingga dia termenung sendiri. "Ada apa, Nak ?" Menahan isak tangis, sang anak pun menjawab, " Itu Bu Guru, ummi sibuk terus, ke sana-kemari ngaji terus. Gak pernah urusin saya. Kadang saya masak sendiri kalau mau makan, saya bosen Bu, mie lagi-mie lagi. Ummi kadang gak masak, saya bisanya masak mie. Padahal saya sengaja suka buatin teh hangat untuk Ummi waktu Ummi pulang ngaji. Kirain Ummi bakal buatin teh manis juga buat saya kalau bangun pagi, tapi gak tuh. Saya juga pengen kaya orang lain dimasakin dan dibekelin masakan Ummi untuk bekal sekolah kaya orang lain. Kalau ada PR saya ngerjain sendiri, mau minta tolong Ummi, Ummi udah tidur duluan kecapaian." haa... ?!
Dalam mengusung dakwah ini, meski sulit namun perlu diupayakan adanya tawwazun (keseimbangan) dari semua ruang lingkup yang ada di sekeliling kehidupan pribadi kita. Tidak ada yang paling utama, semua adalah utama. Posisi kita saat ini adalah efek dari yang ada di sekeliling kita. Semua ada konsekuensinya dari setiap keputusan yang kita ambil. Umar ibnu Khottob r.a. hanya meninggalkan sedikit harta untuk keluarganya ketika dituntut untuk beramal dan berjihad, lain hal dengan Abu Bakar r.a. yang hanya meninggalkan Allah swt dan Rasul-Nya bagi keluarga. Di sini bukan besar kecilnya amal dan keikhlasan berinfaq, karena pada akhirnya Umar r.a. pun menginfaqkan seluruh hartanya, namun di sini adalah bagaimana kita mempersiapkan keluarga kita mendukung setiap keputusan dan aktivitas kita dalam gerakan dakwah ini. Adakah tercatat dalam siroh anak-istri Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. protes dan menuntut hak-haknya atas diri Abu Bakar r.a dan Umar ibnu Khottob r.a. ?









