ANTARA GERAKAN DAKWAH DAN MEMBINA GENERASI DAKWAH
“Prangggg…..!” kaca mesjid sekolah pecah terkena bola yang melesat keras ditendang seorang siswa, sebut saja namanya Mufid. Mencoba bertindak bijak, gurunya pun menyelidiki penyebab mengapa siswa tersebut bermain di sekitar mesjid, padahal di sekolah tersebut terdapat dua lapangan futsal.
Guru pun mengambil perannya, tidak langsung di punishment. Penyelidikan dan pengamatan dimulai dari beberapa hari sebelumnya terhadap perubahan sikap Mufid yang tidak seperti biasanya. Mufid yang baik, pintar, berjiwa pemimpin, pada saat itu mampu memobilisasi teman-temannya melakukan hal yang tidak semestinya - pemberontakan – terhadap peraturan sekolah. Introgasi pun dimulai dengan pertanyaan yang sangat sederhana, “Mufid, ada apa ? beberapa hari ini Mufid berubah lho..!” ramah bertanya sang guru kepada Mufid. Tak disangka air mengalir deras dari matanya, terseguk-seguk menceritakan aktivitas kedua orang tuanya yang sibuk menyambut perhelatan pilkada. Bukan sekali atau dua kali dia ditinggalkan hingga larut malam hanya dengan dibekali uang jajan dua ribu rupiah. Kadang makan siang dan malam pun tak tersajikan. Duh ….!
Maka terlalu jika saja selalu dipertanyakan, “apa peran bidang pendidikan pada gerakan dakwah ini ?”. Justru pada bagian inilah peran pendidikan mengambil bagiannya. Dengan bijak, penuh pengayoman, sang guru menerangkan kepada Mufid. “Nak, Abi-Ummi sedang berdakwah, berjuang, berjihad bersama-sama yang lain, bukan hanya untuk Mufid saja, tapi juga untuk kebaikan banyak orang. Mufid harusnya bangga dengan Abi-Umi”. Dan kata-kata bijak lainnya yang mengarah pada kebanggaan sang anak akan aktivitas orang tuanya. Berharap adanya rasa maklum dari diri seorang anak ?! Aneh memang, ketika orang tua yang seyogyanya dapat berpikir dewasa justru berharap adanya rasa maklum dari seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan butuh perhatian orang tua. Entah model kedewasaan apa yang dituntut oleh orang tua terhadap sosok yang bernama Mufid ini.
Dalam kerangka gerakan dakwah ini, demikianlah sepatutnya lembaga pendidikan mengambil perannya. Bukan sekedar berkesinambungan, tetapi bagaimana pula hal itu bisa saling mengisi dan saling mendukung antarbidang secara profesional, baik yang menempuh siyasi maupun tarbawiyah. Kasus Mufid sudah dapat dipastikan bukan satu-satunya yang pernah ada di lingkungan pendidikan. Dan akan terus bermunculan Mufid-Mufid baru seiring masih banyaknya agenda-agenda dakwah yang ada hampir setiap tahunnya, yang harus dipikul oleh para penggeraknya.
Sementara itu, biarkan para jundut tarbiyah mengambil perannya fokus membina dan terus berupaya secara professional memelihara generasi yang siap melanjutkan estafet gerakan dakwah ini di masa depan, tentunya tetap dalam satu gerak dan kerangka dakwah yang sama.
Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah mendidik generasi penggerak dakwah ini tidak bisa dilakukan hanya oleh lembaga pendidikan. Maka janganlah lupa akan peran para penggerak dakwah ini sebagai orang tua.
wallahu 'alam bishowab



0 komentar:
Posting Komentar